Tujuan Ilmu Tasawwuf Dan Ma'rifat

Tujuan Ilmu Tasawwuf Dan Ma’rifat

Tujuan Ilmu Tasawwuf Dan Ma’rifat

Tujuan Ilmu Tasawwuf Dan Ma'rifat
Tujuan Ilmu Tasawwuf Dan Ma’rifat

Salah satu ilmu yang sanggup mengetahui hakekat ialah ilmu tasaawuf dimana ilmu tersebut ialah serangkaian ilmu syari’at sedangkan ilmu syariat itu wajib diketahui bagi setiap orang muslim mkallaf.karena tiap sesuatu berasal dari wajib maka yang lain yang bekerjasama dengan sesuatu itu wajib pula hukumnya. Seperti halnya dengan tasawwaf, tentunya dalam mempelajari ilmu tasswuf punya maksud dan tujuan yang ingin dicapai dan inilah yang akan menjadi pokok pembicraan sebagai contoh untuk mengetahui tujuan dari ilmu tasawwuf bagi orang yang mempelajari dan memahaminya

1. TASAWWUF

Tujuan Tasawwuf ialah “fana” untuk mencapai “Makrifat”. Arti fana ialah “meniadakan diri semoga ada”, ini berdasarkan cara Filosopis. Secara Tasawwuf, ialah leburnya langsung pada kebaqaan Allah, dimana perasaan Keinsanan lenyap diliputi rasa Ketuhanan dalam keadaan mana, tiruana belakang layar yang menutup diri dengan Al Haqqu Taala, tersingkap kasyaf, dikala itu antara diri dengan Allah menjadi satu dalam baganya tanpa hulul/berpadu dan tanpa ittihad/bersatu Abid dan Makbud dalam pengertian seakan-akan insan dan Tuhan sama.

Iman Tasawwuf Abdul Karim Al Jailany dalam Insanul Kamil berkata :
Artinya: Bahwa sesungguhnya Hamba ialah hamba, Tuhan ialah Tuhan, dan mustahil hamba jadi Tuhan, dan mustahil Tuhan jadi hamba.

Selanjutnya Abdul Karim Al Jahilany berkata :
Artinya: Adalah gejala kasyaf itu ialah: Pertama, fananya seseorang dari dirinya alasannya ialah jelasnya Tuhannya, kedua: fananya seseorang dari pancaran Tuhannya alasannya ialah jelasnya belakang layar Ketuhanan, ketiga: fananya seseorang dari segala yang menyangkut sifatnya alasannya ialah tahqiqnya zatnya Allah.

Dalam pada ini,Ali Bin Abi Thalib r.a. (Iqazul Himam) berkata:
Artinya: Dan di dalam kefanaanku, leburlah kefanaanku. Tetapi di dalam kefanaanku itulah bahkan saya mendapatkan Engkau/Al Haqqu Taala.
Tentang fana ini , oleh Ahli-Ahli Tasawwuf membagi fana atas tiga atau empat tingkat:
Tingkat I disebut . . . . . . . . . Fana pil Af-al
Tingkat II disebut . . . . . . . . Fana pis-Sifat
Tingkat III disebut . . . . . . . . Fana pil-As-ma
Tingkat IV disebut . . . . . . . . Fana piz-Zat
Tingkat-tingkat fana tersebut di atas akan menunjukan pada Bab kemudian.
Fintu fana, ialah:
Dawamuz-Zikri = berkenalan berzikir, ingat kepada Allah
Dawamun-misyam = tetap lupa pada yang lain.

2. M A K R I F A T

Dalam Kitab Risalah al Qusyairih Imam Abi Qasim berkata:
Artinya: Arti makrifat berdasarkan pendapat Ulama ( bukan Ahli Tasawwuf ) ialah pengetahuan. Maka tiap-tiap Ilmu itu ialah makrifat dan tiap-tiap makrifat ialah Ilmu. Dan tiap-tiap orang Alim wacana Allah, ialah orang pintar dan tiap-tiap orang pintar ialah Alim.

Selanjutnya dalam Kitab tersebut, mempersembahkan perincian wacana pengertian makrifat sebagai diberikut: Artinya: Barang siapa yang mengenal Allah dengan jalan pinjaman Allah maka orang itu ialah “Arif” wacana Allah secara Hakekat (Ahli Tasawwuf). Orang yang “Arif” wacana Allah dengan cara dalil saja maka itu, ialah orang Mutakallimin (Ahli Usuluddin). Orang yang “arif” wacana Allah dengan cara taklid (menuruti perkataan orang tanpa mencari dalil) maka orang itu ialah orang awam/orang bodoh.

Baca Juga: Bacaan Ayat Kursi

Selanjutnya dalam Tasawwuf Zunnun al-Misriah (W. 860 M) yang di pandang sebagai Bapak faham “makrifah”, berdasarkan dia ada tiga macam pengetahuan wacana Tuhan.
1. Pengetahuan awam : Tuhan satu dengan perantaraan ucapan kalimah Syahadat.
2. Pengetahuan Ulama : Tuhan satu berdasarkan jalan nalar pikiran.
3. Pengetahuan Sufi/Tasawwuf : Tuhan satu dengan penglihatan Hati sanubari.
Pengetahuan berdasarkan pengertian pertama dan kedua, belum ialah pengetahuan hakiki wacana Tuhan. Keduanya disebut Ilmu/bukan makrifah. Pengetahuan berdasarkan pengertian yang ketigalah yang ialah pengetahuan hakiki wacana Tuhan dan pengetahuan ini disebut “makrifah”

Makrifah spesial untuk terdapat pada kaum Sufi, yang sanggup melihat Tuhan dengan hati sanubarinya. Pengetahuan serupa ini spesialuntuk didiberikan Tuhan kepada kaum Sufi yang sangat berhasrat untuk menemukan Tuhan alasannya ialah sangat cintanya kepada-Nya. Makrifah dimasukkan Tuhan ke dalam hati orang Sufi, sehingga hatinya penuh dengan cahaya.

Ketika Zunnun ditanya bagaimana ia memperoleh makrifah wacana Tuhan ia menjawaban:
Artinya: Aku mengenal Tuhan dengan pinjaman Tuhanku dan sekiranya tidak alasannya ialah Tuhanku saya tak akan kenal Tuhan”.
Ini menggambarkan bahwa makrifah tidak diperoleh begitu saja, tetapi ialah pemdiberian dari Tuhan. Karena itu maka makrifah bukanlah hasil pedoman manusia, tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan, dalam arti bahwa makrifah ialah pemdiberian Tuhan kepada Kaum Sufi yang sanggup menerimanya.

Alat untuk memperoleh makrifah oleh kaum Sufi disebut sir badan insan yang dipergunakan orang Sufi dalam hubungan mereka dengan Tuhan.
1. Qalb/ untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan.
2. Ruh/ untuk mengasihi Tuhan.
3. Sir/ untuk melihat Tuhan

Sir lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari qalbu tidak sama dengan jantung, alasannya ialah qalbu selain dari alat untuk merasa juga alat untuk berfikir. Perbedaan qalbu dengan nalar ialah nalar tidak sanggup memperoleh pengetahuan yang sebetulnya wacana yang kuasa sedangkan qalbu sanggup mengetahui hakekat dari segala yang ada. Dan kalau Tuhan melimpahkan cahayanya maka sanggup mengetahui segala apa yang diketahui Tuhan.