Teori ilmu kerohanian

Teori ilmu kerohanian

Tokoh yang paling utama dalam teori ini adalah Eduard Sparange (1882-1962). Titik berat pandangannya adalah pada kekhususan psikis indvidu. Sesua dengan pendapat Dilthey (1833-1911) Sparange mengemukakan bahwa gejala psikis seseorang sulit diterangkan dalam halnya menerangkan gejala fisik..

Gejala psikis hanya dapat kita “mengerti” yaitu ketika kita mengerti dari arti yang ada dalam keseluruhannya. Apa yang diartikan “mengerti” disini bukan merupakan proses rasional saja, melainkan suatu kemampuan untuk dapat merasakan suatu situasi tertentu.

Gejala dimengerti dari keseluruhan strukturnya, begitu pula gejala perkembangan dimengerti dengan cara seperti itu. Misalnya pemaksaan seksual adala suatu gejala fisiologis, tetapi remaja memberikan arti dalam keseluuhan struktur psikologisnya. Dalam hal itu sikap dapat merasakan dan simpati terhadap person pasangannya memegang peranan yang penting.

Penundaan pemuasan seks hingga sesudah masa remaja, menurut Sparanger, adalah suatu hal yang berarti, baru pada usia dewasa “sexus“ (nafsu seks) dan” eros” (rasa kasih yang mempunyai hakikat etis) dapat bersatu.

Menurut Sparanger pengintegrasian Sexos dan Eros serta berbagai nilai hidup dalam suatu system nilai pribadi bersamaan dengan penemuan diri dan pembentukan suatu rencana hidup yang pribadi adalah inti perkembangan seseorang.

  1. Teori interaksionalisme

Menurut teori ini, perkembangan jiwa atau perilaku anak banyak ditentukan oleh adanya dialektif dengan lingkungannya. Maksudnya, perkembangan kognitif seorang anak bukan merupakan perkembangan yang wajar melainkan ditentukan interaksi budaya.

Pengaruh yang datang dari pengalaman dalam berinteraksi budaya, serta dari penanaman nilai-nilai lewat pendidikan (disebut transmisi sosial) itu diharapkan mencapai suatu stadium yang disebut Ekuilibrasi yakni keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi pada diri anak.

Teoretikus terkenal dalam interaksionalisme adalah Piaget (1947). Piaget hanya mementingkan perkembangan intelektual dan perkembangan moral yang berhubungan dengan itu. Disini moral dipandang sebagai berhubungan dengan intelektual anak. Inti pengertian teori piaget adalah bahwa perkembangan harus dpandang sebagai kelanjutan genesa-embrio. Perkembangan tersebut berjalan melalui berbagai stadium dan membawa anak ke dalam berfungsi dan tingkatan struktur yang lebih tinggi.

Terlaksananya perkembangan ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu:

  1. Factor pemasakan yang  memungkinkan dilakukan aktivitas seseorang.
  2. Pengaruh yang datang dari pengalaman dan transmisi sosial.

Isilah interaksionalisme menunjuk pada pengertian interaksi, yaitu pengaruh timbal balik. Disini dimaksudkan tidak hanya mempengaruhi antara bakat (pembawaan dan konstitusi) dan lingkungan, antar pemasakan dan belajar, meladinkan juga interaksi antara pribadi dan  dan dunia luar. Interaksi  tadi mengandung arti bahwa orang dengan mengadakan reaksi dan aksi ikut memberikan petunjuk pada dunia luar.

sumver :

POS-POS TERBARU