SYARAT-SYARAT QIYAS 

SYARAT-SYARAT QIYAS 

SYARAT-SYARAT QIYAS

SYARAT-SYARAT QIYAS 
SYARAT-SYARAT QIYAS

 

Qiyas memiliki syarat-syarat di antaranya :

1. Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya

maka tidak
dianggap qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma’ atau perkataan
shohabat jika kita mengatakan bahwa perkataan shohabat adalah hujjah. Dan
qiyas yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan dinamakan
sebagai anggapan yang rusak ( ﺪﺳﺎﻓ ﺭﺎﺒﺘﻋﻻﺍ ).

Contohnya : dikatakan : bahwa wanita rosyidah (baligh, berakal, dan bisa
mengurus diri sendiri, pent) sah untuk menikahkan dirinya sendiri tanpa wali,
diqiyaskan kepada sahnya ia berjual-beli tanpa wali.

Ini adalah qiyas yang rusak karena menyelisihi nash, yaitu sabda Nabi
shollallohu alaihi wa sallam :

ﹶﻻ ِﻧ ﹶﻜ  ﺡﺎ ِﺇ ﱠﻻ ِﺑ ﻮ ِﻟ  ﻲ

“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.”

2. Hukum ashl-nya tsabit (tetap) dengan nash atau ijma’.

Jika hukum ashl-nya
itu tetap dengan qiyas maka tidak sah mengqiyaskan dengannya, akan tetapi
diqiyaskan dengan ashl yang pertama, karena kembali kepada ashl tersebut
adalah lebih utama dan juga karena mengqiyaskan cabang kepada cabang
lainnya yang dijadikan ashl kadang-kadang tidak shohih. Dan karena Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

110
mengqiyaskan kepada cabang, kemudian mengqiyaskan cabang kepada ashl;
menjadi panjang tanpa ada faidah.

Contohnya : dikatakan riba berlaku pada jagung diqiyaskan dengan beras,
dan berlaku pada beras diqiyaskan dengan gandum, qiyas yang seperti ini
tidak benar, akan tetapi dikatakan berlaku riba pada jagung diqiyaskan
dengan gandum, agar diqiyaskan kepada ashl yang tetap dengan nash.

3. Pada hukum ashl terdapat ‘illah (sebab) yang diketahui, agar
memungkinkan untuk dijama’ antara ashl dan cabang padanya.

Jika hukum ashl-nya adalah perkara yang murni ta’abbudi (peribadatan yang tidak
diketahui ‘illah-nya, pent), maka tidak sah mengqiyaskan kepadanya. Contohnya : dikatakan daging burung unta dapat membatalkan wudhu diqiyaskan dengan daging unta karena kesamaan burung unta dengan unta, maka dikatakan qiyas seperti ini adalah tidak benar karena hukum ashl-nya tidak memiliki ‘illah yang diketahui, akan tetapi perkara ini adalah murni ta’abbudi berdasarkan pendapat yang masyhur (yakni dalam madzhab al-
Imam Ahmad rohimahulloh, pent).

Baca Juga: Kalimat Syahadat

4. ‘Illah-nya mencakup makna yang sesuai dengan hukumnya

yang penetapan ‘illah tersebut diketahui dengan kaidah-kaidah syar’i, seperti ‘illah

memabukkan pada khomer.

Jika maknanya merupakan sifat yang paten (tetap) yang tidak ada
kesesuaian/hubungan dengan hukumnya, maka tidak sah menentukan ‘illah
dengannya, seperti hitam dan putih.
Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

111
Contohnya : Hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma : bahwa Bariroh
diberi pilihan tentang suaminya ketika ia dimerdekakan, Ibnu Abbas berkata :
“suaminya ketika itu adalah seorang budak berkulit hitam”.

Perkataan beliau “hitam” merupakan sifat yang tetap yang tidak ada
hubungannya dengan hukum, oleh karena itu berlaku hukum memilih bagi
seorang budak wanita jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami
seorang budak walaupun suaminya itu berkulit putih, dan hukum tersebut
tidak berlaku jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang
yang merdeka walaupun suaminya itu berkulit hitam.

5. ‘Illah tersebut ada pada cabang sebagaimana ‘illah tersebut juga ada dalam
ashl

seperti menyakiti orang tua dengan memukul diqiyaskan dengan
mengatakan “uf”/”ah”. Jika ‘illah (pada ashl, pent) tidak terdapat pada
cabangnya maka qiyas tersebut tidak sah.

Contohnya : dikatakan ‘illah dalam pengharoman riba pada gandum
adalah karena ia ditakar, kemudian dikatakan berlaku riba pada apel dengan
diqiyaskan pada gandum, maka qiyas seperti ini tidak benar, karena ‘illah
(pada ashl-nya, pent) tidak terdapat pada cabangnya, yakni apel tidak
ditakar.
Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )