Sejarah Singkat Perang Sampit

Sejarah Singkat Perang Sampit

Sejarah Singkat Perang Sampit

Sejarah Singkat Perang Sampit
Sejarah Singkat Perang Sampit

Sejarah Singkat Perang Sampit- Sobat, masih ingatkah dengan perang antara etnis Dayak dan Madura yang terjadi  sekitar awal tahun 2000-an? Ya pada saat terjadi kerusuhan tersebut banyak korban tewas dengan kepala berserakan dimana-mana. Konflik ini awalnya terjadi di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Lalu bagaimana sebenarnya Sejarah Perang Sampit ini ?

Sejarah Perang Sampit

Insiden ini memasuki puncaknya pada 18 Februari 2001. Namun ini merupakan rentetan konflik yang sudah terjadi sejak Desember 1996 dan Januari 1997 yang menewaskan sekitar 600 orang warga. Sedangkan konflik terakhir ini menewaskan 500 orang dan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Tidak hanya itu, mayat-mayat tanpa kepala orang Madura berserakan di jalan-jalan.

Banyak versi yang mengatakan penyebab begitu marahnya Suku Dayak terhadap suku Madura. Padahal Suku Dayak tetap bisa hidup berdampingan dengan suku lainnya. Peristiwa yang merenggut banyak nyawa ini terjadi tengah malam minggu (Sabtu malam 17/2/2001) sekitar pukul 23.00 WIB disaat korban sedang tidur lelap.

Merasa diserang, warga Madura disekitar tempat kejadian kaget dan terpancing emosinya. Mereka pun kemudian membalas perlakuan tersebut sehingga terjadi pemberontakan. Dengan peristiwa ini warga dayak tidak tinggal diam mereka langsung menghadakan pembunuhan dan pembakaran terhadap rumah-rumah warga Madura.

Korban pun berjatuhan tergeletak tanpa kepala di rumah-rumah dan di jalan-jalan setiap sudut kota Sampit

Orang-orang Dayak melakukan swepping besar-besaran ke seluruh rumah-rumah penduduk tanpa terkecuali dan membunuh setiap orang yang dicurigai dari suku Madura tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Maka warga dari suku Madura yang terjebak kepungan orang-orang Dayak dan tidak sempat mengungsikan diri menjadi sasaran empuk terjangan tobak dan mandau.

Suku Madura tiba di Kalimantan tahun 1930 melalui program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Sekitar 21 % penduduk Kalimanta Tengah merupakan populasi Suku Madura. Tentu saja kehadiran Suku Madura menjadi pesaing bagi Suku Dayak karena umumnya Suku Madura sangat agresif Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan.

Pihak dari Suku Madura mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan diri setelah beberapa anggota mereka diserang. Selain itu, juga dikatakan bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000.

Pembantaian sadis ini membuat kepolisian dan militer turun tangan

Namun Skala pembantaian yang meluas membuat mereka sulit mengontrol situasi. Polisi berhasil  menahan seorang pejabat lokal yang diduga sebagai salah satu otak pelaku di belakang serangan ini.  Mereka yang ditahan diduga membayar enam orang untuk memprovokasi kerusuhan di Sampit.

Pihak kepolisian juga berhasil menahan sejumlah perusuh. Akan tetapi Suku Dayak mengepung kantor Polisi Palangkaraya dan meminta semua tahanan dibebaskan. Polisi pun akhirnya memenuhi permintaan tersebut. Pada tanggal 28 Februari, militer akhirnya berhasil membubarkan massa Dayak dari jalanan, namun kerusuhan sporadis terus berlanjut sepanjang tahun.

Baca juga artikel: