Sejarah Perkembangan Hubungan Dokter Dengan Pasien

 Sejarah Perkembangan Hubungan Dokter Dengan Pasien

Hubungan antara dokter dengan pasien telah berjalan secara tradisi secara berkesinambungan sejak dari masa Hipocrates sampai pertengahan abad kedua puluhan. Pada saat ini tradisi ini kemudian mulai diganti atau paling tidak dilengkapi. Perkembangan ilmiah, teknologi dan sosial pada saat itu menimbulkan dengan cepat perubahan-perubahan dalam ilmu biologis dan pelayanan kesehatan. Perkembangan-perkembangan ini merupakan tantangan bagi konsep-konsep dan kewajiban-kewajiban moral para tenaga kesehatan dan masyarakat yang berlaku pada saat penderita yang sakit atau mengalami kecacatan. Walaupun konsep-konsep moral yang lama dan masa kini banyak mengandung refleksi dan hubungan antara profesi kesehatan dengan pasien, namun hal ini masih mengecewakan dipandang dari segi etik biologis kontemporer.

Salah satu hasil penelitian yang akan penulis angkat adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Russel, yang dikutip oleh Lumenta (Komalawati. V., 1999:43). Hasil penelitian Russel menunjukkan bahwa hubungan antara dokter dengan pasien lebih merupakan hubungan kekuasaan, yaitu hubungan antara pihak yang aktif memiliki wewenang dengan pihak yang pasif dan lemah serta menjalankan peran kebergantungan. Namun, besar kemungkinan dapat dibina suatu hubungan yang sempurna, agar kedua belah pihak dapat berperan dan berinteraksi secara aktif dan saling mempengaruhi.

Selanjutnya dikatakan oleh Suprapti Samil di dalam KODEK 1980 bahwa istilah etik terbentuk dari dua perkataan yaitu “mores of a community” dan “ethos of the people”. Lebih dua ribu tahun, Plato sudah merasa perlu untuk mempertahankan konsep kebenaran dan konsep kebenaran ini melandasi etik akademik. Dalam mencari kebenaran, peran filsafat ilmu sebagai bagian dari bidang humaniora amatlah penting. Filsafat ilmu bertugas menelaah dan menggali sebab musabab terutama dari gejala ilmu pengetahuan, di antara paham tentang kepastian, kebenaran dan obyektifitas. Kebenaran, kepastian dan obyektifitas inilah dipakai sebagai pegangan para profesional, tidak terkecuali dokter dalam melakukan kewajibannya melayani masyarakat yang membutuhkannya. Kembali mengenai hubungan antara dokter dengan pasien, dalam kepustakaan telah banyak diteliti para ahli, baik di bidang medik maupun di bidang sosiologik dan antropologik.

Bila dari hasil-hasil penelitian tersebut di atas dikaitkan dengan praktik pelayanan medik di Indonesia. dalam kenyataannya pasien yang datang dan memilih dokter umum secara sukarela masih sangat kurang. Hal ini dimungkinkan karena faktor-faktor tertentu antara lain faktor budaya dan utamanya faktor ekonomi. Pasien yang merasa sakit akan mendatangi dokter yang terdekat (PUSKESMAS) untuk berusaha mendapatkan pengobatan. Di sini hubungan antara dokter dengan pasien sebagai pihak yang membutuhkan jasa dari dokter sebagai pemberi jasa kurang seimbang. Hal ini disebabkan, menurut pandangan pasien dokter ada di pihak yang mempunyai nilai lebih dan kepada dokter inilah pasien sangat menggantungkan diri untuk penyembuhan penyakitnya. Hubungan antara dokter dengan pasien dalam kondisi ini lebih merupakan hubungan kekuasaan.

Sebagai catatan, perlu penulis kemukakan pandangan pemerintah bahwa kesehatan sebagai hak azasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat masih jauh terwujud dan merupakan suatu dilema yang harus segera dipecahkan.

Dilema yang dimaksud disini adalah bahwa ternyata masing-masing kedudukan dokter dalam hubungan dokter dengan pasien itu mempunyai dampak terhadap peran pasien dalam hubungan pelayanan medik. Oleh karena itu untuk menilai mutu dan penampilan pelayanan medik dari dokter diperlukan beberapa variabel dan ketentuan dalam menentukan faktor yang paling berpengaruh dalam kemampuan pasien.

  1. Komunikasi Antara Dokter Dengan Pasien

Pada hakekatnya, manusia yang diciptakan sebagai  makhluk individu dan makhluk sosial selalu hidup berkelompok demi untuk mempertahankan hidupnya.

Hidup berkelompok antar individu ini dapat terjadi dan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diinginkan setiap individu harus dilaksanakan melalui komunikasi. Demikian pula halnya hubungan antara dokter dengan pasiennya akan berjalan dengan baik dan lancar bila dilakukan komunikasi dua belah pihak guna mendapatkan suatu pengertian atas dua kepentingan yang berbeda. Di satu pihak, pasien mencari dokter dalam usaha untuk mendapatkan upaya penyembuhan atas penyakit yang dideritanya. Sedangkan dokter sebagai seorang profesional dan pemberi jasa berkewajiban untuk memberikan jasa melalui ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya kepada mereka yang membutuhkannya.

Tanpa didasari dengan komunikasi yang baik antara keduanya, kondisi yang demikian ini akan menimbulkan benturan antara dua kepentingan yang merugikan baik bagi pengguna jasa maupun pemberi jasa kesehatan. Karenanya, di dalam pelayanan kesehatan faktor komunikasi merupakan faktor yang sangat menentukan.

Kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare, yang berarti menjadikan sesuatu milik bersama. Adapun yang dimaksud dengan sesuatu adalah isi atau tujuan suatu pesan, sehingga terjadi saling  pengertian antara pihak yang melakukan kegiatan. Dari berbagai definisi tentang komunikasi  dapat ditarik  intinya yaitu bahwa komunikasi merupakan kegiatan pengoperan lambang yang mengandung makna. Menurut  Susanto, yang disitri oleh Komalawati, V., bahwa komunikasi dimulai sebagai suatu kegiatan pra-integrasi diantara para pihak (1999:47). Dalam suatu kepustakaan ada pula pihak yang mengartikan bahwa komunikasi ditujukan untuk memberikan informasi, tetapi harus diingat bahwa tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian, atau, sebagai proses untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi merupakan penerimaan, pengolahan, penyimpanan informasi dan menghasilkan informasi kembali (Jalaludin, 1992).

Setiap penggunaan proses komunikasi, para komunikan dan komunikator (dalam proses komunikasi peran ini saling bertukar) harus mendengar dengan teliti, menyelidiki dengan mendalam, menganalisis hubungan dan perihal apa saja yang telah dikatakan dan hal apa yang telah dialami oleh pembicara. Selain itu untuk dapat berbicara dengan baik, komunikator juga harus mengadakan analisis bukan hanya terhadap komunikannya tetapi juga terhadap hal-hal yang akan dikatakan kepada komunikannya. Komunikator harus mengatur hal-hal yang dianggap terpenting, mana yang kurang penting, mana yang lebih baik dikatakan.

Dikaitkan dalam hubungan antara dokter dengan pasien yang merupakan hubungan interpersonal, maka adanya komunikasi atau yang sering dikatakan sebagai “wawancara pengobatan” amat sangat diperlukan. Dari beberapa hasil penelitian yang ditemukan dalam kepustakaan antara lain dari Foster dan Anderson sebagaimana ditulis Komalawati, V., membuktikan bahwa esensi dari hubungan antara dokter dengan pasien terletak dalam wawancara pengobatan ini.

Dari berbagai kesulitan yang dihadapi dalam hubungan interpersonal antara dokter dengan pasien ternyata masalah yang berhubungan dengan komunikasi merupakan kesulitan yang umum. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa contoh kesulitan mengenai komunikasi yang diangkat dari pendapat Foster dan Anderson (1986: 146) antara lain

Seorang dokter Inggris di California menasehati seorang ibu Meksiko mengenai cara menyapih bayi yaitu dengan mengatakan “pakailah ikat dada dan kurangi minum cairan”. Ternyata walaupun wanita itu mengerti sedikit bahasa Inggris tetap kata-kata itu sulit dipahaminya sedangkan harga diri dan rasa malu menghalanginya untuk meminta penjelasan dari dokter tersebut.

Seorang anak kecil dari pasangan imigran dari daerah Selatan Detroit dibawa ke kamar darurat sebuah rumah sakit besar untuk mendapatkan jahitan pada luka di kepalanya. Ayahnya telah diberitahu bahwa  anaknya harus dibawa kembali seminggu lagi untuk dibawa jahitannya. Ayah itu memahami sepenuhnya kata-kata dokter tersebut, tetapi ternyata kemudian jahitan anaknya itu dibuka olehnya dengan menggunakan gunting kuku. Hal itu dilakukannya, karena sebenarnya ia merasa keberatan dan memberontak untuk membayar $22 untuk pertolongan darurat anaknya. Di samping itu, yang lebih penting adalah kenyataan bahwa ia harus ke kamar bedah untuk membuka jahitan itu. Hal ini merupakan sesuatu yang mengerikan.

Memperhatikan kedua kasus di atas, hal tersebut tidak mengherankan. Kalau memperhatikan tentang batasan komunikasi yang telah penulis ungkapkan di depan, bahwa komunikasi adalah merupakan suatu kegiatan yang berisi suatu pesan, berita dan keterangan mengenai hal tertentu, dengan tujuan untuk disebarluaskan dan seterusnya, disini terjadi ketidaklancaran atau penyumbatan komunikasi di antara dua pihak yaitu antara dokter dengan pasien. Penyumbatan atau ketidaklancaran itu terjadi pertama adalah faktor pendidikan. Faktor ini akan mempengaruhi daya tangkap pasien atau instruksi dokter yang harus dia lakukan. Faktor kedua adalah faktor sosial budaya, dimana hal ini ditandai dengan masalah bahasa dan adat istiadat, misal masalah harga diri, timbul rasa malu dan sebagainya. Faktor lain, sebagai tambahan adalah faktor psikologis. Yaitu masalah harga diri dan malu untuk bertanya serta rasa takut ke kamar bedah karena hal tersebut dirasakan sangat mengerikan.

Hasil penelitian lain yang dilakukan di klinik pediatric rumah sakit anak di Los Angeles menunjukkan bahwa hal yang tidak disukai para ibu dalam perawatan yang diberikan kepada anaknya adalah tingkah laku para dokter yang efisien, tidak akrab dan kelihatan tidak acuh. Namun, dalam sampel sebanyak 800 responden ditemukan bahwa para dokter pada umunya merasa bersikap ramah, dan hanya kurang dari para ibu cenderung mempunyai kesan bahwa para dokter bertingkah laku efisien, tidak akrab dan tidak acuh. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa para dokter lebih banyak berbicara daripada para ibu pasien. Hal ini membuktikan bahwa pertemuan antara dokter dengan pasien (ibu pasien) cenderung memberikan hasil yang lebih baik, jika ibu pasien terlibat dalam pembicaraan yang aktif dengan dokter. Dari hasil penelitian ini, juga diperoleh gambaran bahwa 76 % para ibu menyatakan sangat dan cukup puas. Akan tetapi hampir separuh dari para ibu itu meninggalkan ruang praktik dokter masih dengan pertanyaan tentang sebab penyakit yang sebenarnya yang diderita oleh anaknya.

sumber :
https://conversion-guides.com/seva-mobil-bekas/