Pengusaha Inginkan Insentif Pajak

Pengusaha Inginkan Insentif Pajak

Pengusaha Inginkan Insentif Pajak

Pengusaha Inginkan Insentif Pajak
Pengusaha Inginkan Insentif Pajak

BANDUNG- Permintaan dolar AS di dalam negeri masih terus tinggi karena ketersediaanya terbatas.

Disisi lain perdagangan internasional selalu memerlukan dolar sebagai mata uang

utama dalam transaksi ekspor impor. Tingginya nilai impor Jawa Barat yang mencapai US$1,07 miliar membuktikan hal itu. Sementara di sisi lain AS menarik sebagian dollar dari peredaran sehingga kurs rupiah terhadap dollar masih cukup tinggi, sekitar Rp 13.700.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Dedy Widjaja mengatakan, dunia usaha masih belum menemukan momentum bangkit dari akibat tingginya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

“Kami melihat daya beli masih belum pulih benar. Harus ada rangsangan agar dollarnya masuk ke Indonesia,” ungkap Dedy kepada wartawan.

Dedy yang baru terpilih kembali menjadi Ketua Apindo Jabar periode 2015-2020

menambahkan, perlu insentif pajak agar dapat merangsang dollar lebih banyak lagi masuk Indonesia. Bukan karena tergantung dollar, tapi karena saat ini belum ada alat transaksi lain untuk kebutuhan ekspor-impor.

“Dollar yang masuk ke Indonesia biasanya kena PPh. Kalau bisa jangan dulu ada itu agar dollarnya langsung ke Indonesia,” kata Dedy.

Selain itu, Dedy meminta pemerintah mempertimbangkan langkah penurunan

pajak bunga deposito bagi Devisa Hasil Ekspor (DHE) hingga minimalnya sama dengan Singapura, Malaysia dan Thailand yang hanya 2-4%. Adapun saat ini perbankan dalam negeri menerapkan pajak bunga deposito 10%.
“Hal itu akan menarik minat pengusaha menyimpan DHE di Indonesia. Sehingga cadangan devisa negara akan semakin kuat (saat ini: US$101,7 miliar atau 14% dari GDP),” sebut dia. Jo.

 

Sumber :

https://www.diigo.com/annotated/eedcbd8597483c0f4186d7ae2a83aaf6