Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan

Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan

Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan

 

Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan
Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan

Masa pemerintahan Ustman bin Affan

adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman al-Khulafa’ ar-Rasyidin yaitu 12 tahun. Sejarahwan membagi masa pemerintahan Utsman bin Affan menjadi dua periode, enam tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik dan enam tahun terakhir adalah merupakan masa pemerintahan yang buruk. Enam tahun pertama pada pemerintahan, Beliau melanjutkan sukses pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai Islam seperti Mesir dan Irak terus dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencana secara cermat dan simultan di semua front.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shidiq, terjadi perang yang dipimpin oleh Kholid bin Walid untuk memerangi Musailamah al-Kadzab yang mengaku bahwa dirinya adalah Nabi. Peperangan yang terjadi di Yamamah itu menggugurkan 700 sahabat penghafal al-Qur’an. Melihat hal ini, Umar bin Khathab meminta kepada Abu Bakar ash-Shidiq agar al-Qur’an dikumpulkan karena khawatir al-Qur’an akan hilang dengan gugurnya para penghafal al-Qur’an.[1] Atas usulan dari Umar bin Kathab itulah, maka Abu Bakar ash-Shidiq memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan al-Qur’an. Karena beliau adalah orang yang pintar, dipercaya keagamaannya, dan salah seorang penulis wahyu di masa Rasulullah. Zaid bin Tsabit dalam tugasnya dibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.

Dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa

penyimpanan shuhuf-shuhuf itu dipegang oleh khalifah, namun setelah khalifah Umar bin Khathab wafat, shuhuf-shuhuf itu tidak disimpan oleh Utsman sebagai khalifah berikutnya, tetapi dipegang oleh Hafshah. Karena beliau adalah istri Rasul dan anak khalifah Umar, beliau juga sosok yang pandai membaca dan menulis. Penyebaran Islam bertambah luas dan para qurra’ pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at dari para qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf pada saat al-Qur’an diturunkan. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan qira’at ini. Terkadang sebagian dari mereka merasa puas karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah.

Akan tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah, sehingga terjadilah pembicaraan tentang bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling pertentangan bila terus tersiar, bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.

Baca Juga: