Pengertian Korupsi

Pengertian Korupsi

Korupsi berasal dari kata latin corrumpere atau corruptus yang diambil dari kata hafila adalah penyimpangan dari kesucian (profanity), tindakan korupsi  di katakan perbuatan  tak bermoral, kebejatan, kebusukan, kerusakan, ketidak jujuran, atau kecurangan. Dengan demikan korupsi memiliki konotasi adanya tindakan-tindakan hina, fitnah atau hal-hal buruk lainnya. Bahasa eropa barat kemudian mengadopsi kata ini dengan sedikit modifikasi; inggris: corrupt, coruption; Prancis:corruption; Belanda korrupte. Dan akhirnya  dari bahasa belanda terdapat penyesuaian ke bahasa indonesia menjadi:korupsi. Istilah penyogokan (graft) merujuk kepada pemberian hadiah atau upeti untuk maksud mempengaruhi keputusan orang lain. Pemerasan (ektortion) yang diartikan sebaagai permintaan setengah memaksa atas hadiah-hadiah tersebut dalam pelaksanaan tugas-tugas negara.[2] Kecuali itu ada istilah penggelapan (fraud) untuk menunjuk kepada tindakan pejabat yang menggunakan dana publik yang mereka urus untuk kepentingan diri sendirisehingga harga yang harus dibayar oleh masyarakat menjadi lebih mahal. Dengan demikain, korupsi merupakan tindakan yang merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan ditinjau dari berbagai aspek normatif, korupsi merupakan suatu penyimpangan atau pelanggaran. Dimana norma sosial, norma hukum, norma etika pada umumnya secara tegas menganggap korupsi sebagai tindakan yang buruk.

  1. Korupsi diperusahaan

Setelah melakukan penelitian di AS, Donald Cressey memperkenalkan sebab-sebab mengapa orang melakukan korupsi pada perusahaan. Ia menyebutnya sebagai Fraud Triangle. Orang melakukan korupsi pada perusahaan disebabkan 3 faktor yaitu: (1) adanya kesempatan melakukan korupsi (opportunity), (2) gaji yang diterima tidak cukup untuk biaya hidup (motive), dan (3) pelaku korupsi tidak menganggap bahwa korupsi yang dilakukannya adalah salah (rationalization). Jika perusahaan ingin mengurangi tingkat korupsi yang dilakukan oleh para karyawannya maka perusahaan harus mendasarkan diri pada 3 faktor tersebut dan berupaya mengatasi ke-3 faktor tersebut secara simultan, yakni dengan : (1) mengurangi adanya peluang untuk melakukan korupsi pada kegiatan-kegiatan perusahaan, (2) menaikkan gaji para karyawan minimal sama dengan kebutuhan hidup minimal, dan (3) menciptakan budaya anti korupsi dan budaya kerja yang baik di perusahaan yang bersangkutan.

 

https://promo-honda.id/mplayer-pro-apk/