Orangtua Mengadu ke Kepala Desa

Orangtua Mengadu ke Kepala Desa

Orangtua Mengadu ke Kepala Desa

Orangtua Mengadu ke Kepala Desa
Orangtua Mengadu ke Kepala Desa

Sejumlah orang tua siswa dari warga Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, mengadu ke kepala desa setempat lantaran anak mereka tidak berhasil diterima di SMP Negeri 3 Ngamprah. Padahal, jika melihat zonasi semestinya bisa diterima karena jarak sekolah dan rumah tidak jauh sesuai dengan aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Rasmana,58, salah satu orangtua mempertanyakan pihak sekolah yang tidak

mengakomodir warga di sekitar lingkungan sekolah. Padahal, sesuai dengan aturan PPDB yang menerapkan zonasi, warga di kawasan sekolah bisa diterima.

“Saya tidak mengerti kenapa anak saya yang lulusan SD Sukamaju tidak diterima di SMP Negeri 3 Ngamprah. Padahal, pada saat pendaftaran dirinya menerima berkas bahwa jarak rumahnya ke sekolah hanya 720 meter (m). Namun saat pengumuman dirinya mendapatkan penjelasan bahwa rumahnya berjarak 1.100 m dari sekolah sehingga tidak masuk zonasi,” kata warga Kampung Simpati Sumur Bor, RT 04/05, Cilame ini, kemarin.

Warga lainnya mengaku, dia sengaja mendaftarkan anaknya ke SMPN 3 Ngamprah

karena dari google map jarak terdekat dibandingkan ke SMPN 1 Ngamprah. Tapi ternyata dari hasil pengumuman anaknya tidak diterima dengan alasan tidak masuk zonasi karena jarak sekolah ke rumah mencapai 1.050 m.

Kondisi ini yang membuatnya khawatir karena kalau harus daftar ke sekolah swasta, mesti menyiapkan uang Rp 4 hingga Rp 5 juta untuk masuknya saja, belum termasuk biaya bulanan.

“Anak saya tidak diterima (SMPN 3 Ngamprah). Makanya ini saya jadi bingung anak mau sekolah ke mana, karena kalau ke swasta biayanya mahal,” kata warga Kompleks Cilame Indah yang minta namanya tidak disebutkan.

Pj Kepala Desa Cimale Jaka Permana didampingi Ketua LPMD Asep Jabar

menyebutkan, pihak desa tidak bisa melakukan intervensi terkait adanya puluhan calon siswa yang tidak diterima di SMPN 3 Ngamprah. Meskipun begitu pihaknya tetap menampung aspirasi warga dan mencari solusi yang terbaik, agar para anak didik tersebut tetap bisa sekolah. Kondisi ini pun tidak hanya menimpa warga Cilame. Warga Desa Tanimulya juga mengalaminya.

“Kami dari desa tidak bisa melakukan intervensi kepada pihak sekolah karena ini masuk ranah dinas pendidikan. Namun, kami akan melakukan supaya agar ada solusi terbaik bagi semua pihak,” tandasnya. (drx)

 

Sumber :

http://journals.sbmu.ac.ir/en-iranjem/comment/view/18002/0/64678