Model Pengelompokan Terpadu  Dapat Meningkatkan Efektifitas Pengelolaan Kelas

MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KELAS

Model Pengelompokan Terpadu  Dapat Meningkatkan Efektifitas Pengelolaan Kelas

Model Pengelompokan Terpadu  Dapat Meningkatkan Efektifitas Pengelolaan Kelas
Model Pengelompokan Terpadu  Dapat Meningkatkan Efektifitas Pengelolaan Kelas

Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain, dan pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru. Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Sebagai guru kelas penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena jumlah siswa terlalu banyak. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru dalam mengelola kelas. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kelas yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba menampilkan pengelolaan kelas dengan model pengelompokkan terpadu. Yang mana setiap kelompok terdiri dari beberapa orang siswa dengan tingkat kemampuan, sikap, dan keterampilan yang berbeda, karena hal ini banyak memberika manfaat dan kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas.

Identifikasi Masalah

Banyak masalah yang berkaitan dengan pengolaan kelas yang dapat diidentifikasi, diantaranya : a. Bagaimana menata siswa dalam kelas agar siswa dapat terorganisir dengan baik? b. Bagaimana penataan ruang kelas agar dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. c. Bagaimana penataan tempat duduk siswa agar siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien serta memenuhi syarat edukatif. d. Bagaimana penataan alat-alat pelajaran dan perlengkapan kelas lainnya yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar e. Bagaimana menata keindahan dan kebersihan kelas sehingga dapat memotivasi siswa dalam kegiatan belajar. f. Bagaimana membina disiplin di dalam kelas melalui pendekatan-pendekatan tertentu yang dapat mengembangkan tingkah laku siswa yang diharapkan

Pembatasan Masalah

Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah yang ingin dipecahkan.yaitu sebagai berikut

a. Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan penataan tempat duduk siswa yaitu dengan model pengelompokkan terpadu.

b. Sejauh mana model pengelompokkan terpadu membantu guru dalam pengelolaan kelas.

c. Model pengelompokkan terpadu ini diuji cobakan pada pelajaran Sains, dengan indikator “mengidentifikasi sifat benda padat, cair dan gas”. BAB II MODEL

PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KELAS

2.1. Pengertian Model Pengelompokan Terpadu Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memerlukan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien salah satunya dengan menata tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa di dalam kelas dapat dikelola dalam klasikal, individual dan kelompok. Model pengelompokkan terpadu adalah kelompokan yang di bentuk dengan berbagai macam tujuan dan terdiri dari beberapa siswa yang memiliki latar belakang kemampuan pengetahuan sikap dan keterampilan yang berbeda.

2.1.1 Pengertian Efektifitas Pengelolaan kelas.

a. Pengertian Efektifitas T.Hani Handoko Merumuskan definisi efektifitas sebagai berikut : “Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang telah di tetapkan”.Sementara yang mengatakan bahwa “Efektifitas adalah kesanggupan untuk mewujudkan suatu tujuan”. Dari rumusan-rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas merupakan kemampuan atau kesanggupan memilih dan mewujudkan tujuan secara tepat.

b. Pengertian Pengelolaan Kelas Kualitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar tergantung pada banyak faktor antara lain jumlah siswa dalam kelas yang merupakan bagian dari pengelolaan kelas. Yang dimaksud dalam kelas ruangan belajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah dan menjadi satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan. Sedangkan pengelolaan kelas segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. (pengelolaan kelas di Sekolah Dasar, 1993 /1994).

Efektifitas pengelolaan kelas merupakan upaya pihak guru untuk menata kehidupan kelas dan melakukan serangkaian usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mengatur kondisi yang optimal serta memperbaiki jika terjadi gangguan agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efesien. 2.2 Tujuan a. Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut: memberikan solusi alternatif dalam pengelolaan kelas khususnya bagi kelas dengan jumlah siswa melebihi kelas ideal. b. Mendeskrisikan manfaat yang dapat diperoleh dari Model Pengelompokan Terpadu. c. Membantu memotivasi guru untuk mengubah hambatan menjadi daya dukung dalam pembelajaran.

2.3 PERMASALAHAN YANG DIHADAPI GURU

2.3.1 Permasalahan yang Ada Pada Guru Itu Sendiri

a. Guru malas membaca buku untuk menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. b. Guru hanya terpaku pada buku yang ada saja. c. Guru malas inovasi dalam pembelajaran. d. Guru malas menggunakan berbagai metode dan tidak menguasai penggunaan alat peraga. d. Guru segan untuk konsultasi mengenai kesulitan pembelajaran dalam wadah KKG. e. Guru malas mengadakan bimbingan bagi siswa yang kurang menguasai pelajaran. 2.3.2 Permasalahan Tempat Tugas Tempat tugas terlalu jauh sehingga menghabiskan waktu di perjalanan. Suasana ditempat tugas tidak ada kekeluargaan dan tidak kondusif sehingga membuat guru tidak merasa nyaman, Kurangnya perhatian dari kepala sekolah tentang kelemahan guru, Kurang tersedianya sarana dan prasarana di sekolah.

2.3.3 Permasalahan dari Masyarakat.

Ada sebagian masyarakat yang masih kurang perhatian terhadap pendidikan. Dimata masyarakat guru serba segalanya sehingga bila melakukan suatu kesalahan, masyarakat langsung menghujat dan mencemooh. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sangat pesan sehingga ada sebagian masyarakat yang lebih maju dalam IPTEK dibandingkan guru itu sendiri. Faktor lingkungan yang buruk sehingga ikut membentuk siswa menjadi kurang baik. Faktor kebudayaan, adat istiadat dan bahasa yang dapat juga mempengaruhi pendidikan.

2.4 Upaya dan Dukungan Praktisi Pendidikan

Untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (pendidik) bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah tetapi perlu adanya kerjasama yang baik dari pemerintah (PEMDA), Komite Sekolah dan masyarakat serta adanya kerjasama antar guru. Upaya dan dukungan tersebut antara lain ; Penyediaan gedung sekolah bertingkat sarana lainnya, Meningkatkan mutu guru melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi melalui penataran-penataran dan pelatihan adanya penyuluhan dan supervisi dari kepala sekolah, pengawas dan kepala UPTD PAUD/SD Kecamatan Cikarang Barat, Meningkatkan kesehjateraan guru melalui intensif, adanya kerjasama antar guru dalam wadah KKG. https://www.dosenpendidikan.com/contoh-teks-editorial/

Peningkatan kualitas guru dengan beasiswa S1, adanya mutasi guru dalam mengajar agar tidak jenuh atau peningkatan karir, adanya kerjasama antar sekolah dengan masyarakat melalui komite sekolah, adanya forum silahtuhrahmi antara sekolah dan masyarakat dalam merumuskan program dan kebijakan sekolah, adanya kerjasama dengan intansi lain, adanya hubungan akrab Kepala sekolah dengan Guru, penyampaian informasi terbaru dari guru yang baru mengikuti penataran, kunjungan atau studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih berhasil.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Setelah penulis mengamati proses Model Pengelompokan Terpadu

dan mendapat nilai akhir siswa kelas IV dalam uji coba penerapan model pengelolaan kelas ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Pengelolaan kelas dengan Model Pengelompokkan Terpadu dapat membantu guru dalam mengkondisikan kelas untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa dengan baik sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal. b. Model Pengelompokkan Terpadu ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa terutama dalam pelajaran Sains dengan indikator “Mengidentifikasi sifat benda cair padat dan gas”. c. Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran sekolah. 3.2 Saran Berikut ini saran-saran yang dapat penulis sampaikan kepada para pembaca pada umumnya, khususnya kepada guru kelas diantaranya : a. Agar suatu proses pembelajaran hasil yang optimal maka semua komponen pembelajaran harus baik dan mendukung. Salah satunya pengeloaan kelas dengan Model Pembelajaran Terpadu. b. Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran untuk itu bisa dijadikan model alternatif bagi guru.