Mengenal Apa Itu Ketamin

Mengenal Apa Itu Ketamin

Mengenal Apa Itu Ketamin

Mengenal Apa Itu Ketamin
Mengenal Apa Itu Ketamin
Ketamin adalah obat anestesi umum nonbarbiturat  yang memiliki mula kerja cepat. Nama kimianya adalah 2-(chlorophenyl)-2-(methylamino) cyclohexanon hydrochlorid. Obat ini diperkenalkan pertama kali oleh Domino dan Carsen pada tahun 1965.
Ketamin mempuyai efek analgesi yang kuat sekali, akan tetapi efek hipnotiknya kurang (tidur ringan) yang Anestesi dengan pemberian ketamin ini disebut anestesi disosiatif . Larutannya memiliki pH 3,4 – 5,5.
Orang yang mendapat anestesi dengan ketamin. meskipun orang tersebut menjadi tidak sadar dan tidak merasa nyeri sat dilakukan operasi, tetapi bisa saja matanya tetap terbuka, tangan dan kakinya bergerak-gerak, bahkan kadang dapat tetap bersuara. Tonus otot pada pemberian ketamin cenderung meningkat, dan refleks batuk tetap dapat terjaga.
Untuk prosedur yang singkat ketamin, dapat diberikan secara iv / im setiap beberapa menit untuk mencegah rasa sakit.

Farmakologi

Sifat-sifat Ketamin
  • Larutan tidak berwarna
  • Stabil pada suhu kamar
  • Memiliki pH 3,5 – 5,5). ( 2, 6 )

Farmakokinetik

Sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan hidrolisis dalam hati, kemudian dieksresi, terutama dalam bentuk metabolik dan sedikit dalam bentuk utuh 

Dosis dan Pemberian

Intravena : dosis 1-4 mg/kgBB, dengan dosis rata-rata 1 – 2 mg/kgBB dengan lama kerja ± 15-20 menit, dosis tambahan 0,5 mg/kgBB sesuai kebutuhan.
Intramuskuler : dosis 5-10 mg/kgBB, dosis rata-rata 10 mg/kgBB dengan lama kerja ± 10-25 menit, terutama untuk anak dengan ulangan 0,5 dosis permulaan
Pulih sadar setelah pemberian ketamin terjadi antara 10 – 15 menit, tetapi sulit untuk menentukan saatnya yang tepat, seperti halnya sulit menentukan permulaan kerjanya. 

Efek Ketamin

a. Analgesi

Merupakan analgesi yang sangat kuat, sehingga meskipun penderita sudah sadar, efek analgesiknya masih ada. Rasa nyeri yang terutama dihambat adalah nyeri somatik, untuk analgesik nyeri viseral hampir tidak ada sehingga tidak efektif untuk operasi organ-organ viseral. Pada anak, analgesi untuk organ viseral cukup baik sehingga dapat dipakai untuk operasi seperti hernia atau batu ginjal, walaupun terjadi rangsangan pada peritoneum. Baik untuk analgesi pada bayi/anak, tanpa menyebabkan efek hipnotik – sedasi (menggunakan subdose 2,5 mg/kgBB, IM)

b. Relaksasi 

Anastetik ini tidak mempunyai daya pelemas otot, kadang-kadang malah tonus otot meningkat disertai gerakan-gerakan yang tidak terkendali, sehingga ketamin tidak begitu baik bila digunakan sebagai obat tunggal, seperti pada operasi intra abdominal dan operasi lain yang membutuhkan penderita diam.

c. Hipnotik 
Anestesi ini sering digunakan untuk induksi dan disusul dengan pemberian eter atau N2O. Dalam keadaan tidur dapat terjadi gerakan-gerakan spontan dari lengan, tungkai, bibir, mulut bahkan sampai bersuara, walaupun dosisnya ditingkatkan sampai dosis yang mendepresi pernafasan. Karena anastetik ini menimbulkan nistgmus, maka tidak dapat digunakan untuk operasi mata khususnya strabismus.
d. Anestesi Disosiatif
Anestesi yang menggunakan ketamin menyebabkan desosiasi karena obat ini mempengaruhi asosiasi di korteks serebri. Eksitasi dapat terjadi pada pemberian ketamin (seperti mimpi yang menakutkan), pencegahannya dengan pemberian obat tranquilizer. Ketamin juga berefek gangguan psikis setelah siuman dan gejala kejang sewaktu dalam anestesi. Efek ini dapat dicegah dengan pemberian valium.
e. Sirkulasi
Ketamin akan merangsang pelepasan katekolamin andogen dengan akibat terjadi peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan curah jantung. Karena itu efeknya menguntungkan untuk anestesi pada pasien syok/renjatan.
f. Pernafasan 
Depresi pernafasan kecil sekali dan hanya sementara kecuali dosis terlalu besar dan adanya obat-obat depresan sebagai premedikasi. Ketamin menyebabkan dilatasi bronkhus dan bersifat antagonis terhadap efek kontraksi bronkhus oleh histamin. Baik untuk penderita asma dan untuk mengurangi spasme bronkhus pada anestesi umum yang ringan.
g. Kardiovaskuler
Tekanan darah akan naik baik sistole maupun diastole. Kenaikan rata-rata antara 20-25 % dari tekanan darah semula, mencapai maksimal beberapa menit setelah suntikan dan akan turun kembali dalam 15 menit kemudian. Denyut nadi juga meningkat.
h. Efek Lainnya
Ketamin dapat meningkatkan gula darah 15 % dari keadaan normal, walaupun demikian bukan merupakan kontraindikasi mutlak untuk penderita dengan DM. Ketamin juga dapat menyebabkan hipersalivasi, tapi efek ini dapat dikurangi dengan pemberian premedikasi antikolinergik.
Aliran darah ke otak, tekanan intrakaranial dan tekanan intra okuler meningkat pada pemberian ketamin. Karena itu sebaiknya tidak digunakan pada pembedahan pasien dengan tekanan intrakranial yang meningkat (edema serebri, tumor intracranial) dan pasien pada pembedahan mata.
Indikasi Pemakaian Ketamin
  1. Untuk induksi sebelum pemberian anestesi umum lainnya
  2. Untuk prosedur dimana pengendalian jalan nafas sulit, misalnya pada koreksi jaringan sikatrik daerah leher, disini untuk melakukan intubasi kadang-kadang sukar.
  3. Untuk prosedur diagnostik pada bedah syaraf/radiologi (arteriografi)
  4. Tindakan orthopedi (reposisi, biopsi)
  5. Pada pasien dengan resiko tinggi : ketamin tidak mendepresi fungsi vital. Dapat dipakai untuk induksi pada shock.
  6. Untuk tindakan operasi kecil.
  7. Di tempat di mana alat-alat anestesi tidak ada.
  8. Pada asma, merupakan obat pilihan untuk induksinya
Kontraindikasi
  1. Pasien hipertensi dengan sistolik 160 mmHg pada istirahat dan diastolik 100 mmHg.
  2. Pasien dengan riwayat CVD.
  3. Dekompensasi cordis.
  4. Penyakit dengan peningkatan tekanan intrakranial (edema serebri) atau peningkatan tekanan intra okuler.
  5. penderita eklampsia dan pre-eklampsia
Peringatan / Hati-hati :
  1. Ketamin hanya boleh diberikan oleh dokter yang berkompeten memberikan anestesi umum dan mampu menjaga jalan napas tetap terbuka dan memberikan napas buatan. Alat-alat resusitasi harus disiapkan.
  2. Pemberian secara intravena harus dilakukan pelan-pelan (lebih dari 60 detik). Pemberian secara cepat atau dosis berlebihan dapat menyebabkan henti napas dan peningkatan tekanan darah
  3. Pasien dengan riwayat kelainan jiwa harus diberikan dengan hati-hati.
  4. Operasi-operasi pada daerah faring karena refleks masih baik.

 

Baca Artikel Lainnya: