Menag Bertemu Delegasi Ulama Al-Azhar Bahas Fenomena Ekstremisme

Menag Bertemu Delegasi Ulama Al-Azhar Bahas Fenomena Ekstremisme

Menag Bertemu Delegasi Ulama Al-Azhar Bahas Fenomena Ekstremisme

Menag Bertemu Delegasi Ulama Al-Azhar Bahas Fenomena Ekstremisme
Menag Bertemu Delegasi Ulama Al-Azhar Bahas Fenomena Ekstremisme

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin menerima kunjungan kehormatan delegasi Ulama Al-Azhar Mesir, Jumat (26/7). Delegasi dipimpin oleh Deputi Grand Syeikh, Pemimpin Tertinggi Al-Azhar, Syeikh Shaleh Abbas.

Hadir dalam kesempatan itu, Duta Besar Mesir di Jakarta, Amr Moawwad dan anggota delegasi antara lain Prof. Dr. M. Abu Zaid al-Amir, Wakil Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Abdul daim Nouseir, penasihat Grand Syeikh Al-Azhar dan Mayjen Osama Yasin, Wakil Ketua Pimpinan Pusat Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA).

Selain berbincang tentang kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Al-Azhar, pertemuan

ini juga membahas tentang cara menyikapi fenomena ekstremisme, sikap intoleran dan radikalisme yang belakangan ini semakin menguat, sehingga menjadi tantangan dalam mewujudkan moderasi beragama.

Menurut Syeikh Shaleh, Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan, dan salah satu karakter ajarannya adalah moderat. Sikap ekstrem bertentangan dengan fitrah.

Bersikap ekstrem dan intoleran, lanjut Syeikh Shaleh, bukan hanya menyalahi ajaran agama, tetapi juga menyalahi fitrah kemanusiaan. Esensi berislam tidak menyakiti orang lain dengan ucapan dan perbuatan. Bersikap moderat berarti harus bersikap adil. Adil dalam pikiran, ucapan dan tindakan.

Shaleh menyitir sebuah ayat dalam QS. Al-Baqarah: 143 tentang ‘ummatan wasathan’ yang dia artikan sebagai umat yang adil.

“Pemikiran dan ideologi ekstrem harus dihadapi dengan pemikiran dalam bentuk counter

narasi dan mengajarkan pemahaman Islam yang moderat. Di sini pendidikan memegang peranan penting. Tentu saja, selain perlunya pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Tidak sedikit anak-anak muda terjebak ke dalam kelompok ekstrem karena miskin dan tidak punya pekerjaan,” tutur Syeikh Shaleh.

Sementara itu, Syeikh M. Abu Zaid al-Amiri menambahkan, pentingnya membuka wawasan

umat agar bisa menyikapi perbedaan dan menghormati pendapat yang berbeda. Islam agama yang menghargai pluralitas (ta`addudiyyah). Inilah metode yang diterapkan di Al-Azhar. Di tingkat dasar dan menengah siswa dikenalkan dengan mazhab tertentu sesuai pilihannya; Hanafi, Maliki, Syafi`i atau Hambali. Setelah itu diajarkan perbandingan mazhab, sehingga siswa memahami argumen setiap mazhab dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

 

Sumber :

https://my.sterling.edu/ICS/Academics/LL/LL379__UG08/FA_2008_UNDG-LL379__UG08_-A/Blog_105.jnz?portlet=Blog_105&screen=View+Post&screenType=next&&Id=dc470024-0aec-432c-bf79-108752dbf4b8