Lestarikan Bahasa Sunda Lewat Muatan Lokal

Lestarikan Bahasa Sunda Lewat Muatan Lokal

Lestarikan Bahasa Sunda Lewat Muatan Lokal

 

Lestarikan Bahasa Sunda Lewat Muatan Lokal

Eksistensi bahasa daerah ditengah gempuran bahasa asing di era globalisasi perlu mendapat perhatian, khususnya dari lembaga pendidikan selaku pendidik generasi muda. Sehingga, selain mampu membawa siswa beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, siswa juga bisa melestarikan budaya nenek moyang mereka, salah satunya adalah bahasa.

Dilansir dari kbr.id, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah mengidentifikasi 652 bahasa daerah. Dari jumlah itu, sebanyak 71 bahasa telah dipetakan vitalitasnya. Sebanyak 11 bahasa punah, 4 bahasa berstatus kritis, dan 19 terancam punah. Sebelas bahasa yang punah tersebar di Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Adapun bahasa yang direvitalisasi dan dikonservasi sebanyak 16 bahasa.

“Penggunaan bahasa daerah harus dipertahankan dan dikembangankan. Generasi muda pun harus ikut andil dalam melestarikannya,” ucap Pengawas SMA Kota Bandung Cabang Dinas Wilayah VII Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dian Peniasiani dalam acara “Pasanggiri Apresiasi Basa sareng Kesenian Daerah 2018” di SMA 3 dan 5 Kota Bandung, Minggu (2/9/2018) yang diadakan oleh Musawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP) Basa Sunda Kota Bandung.

Dian mengatakan, bahasa daerah, khususnya bahasa sunda memiliki falsafahnya sendiri yang memiliki nilai budaya dan nilai etika. Salah satunya adalah pembedaan penggunaan bahasa terhadap lawan bicara. “Bahasa sunda memiliki etikanya sendiri, ada penggunaan bahasa yang khusus digunakan untuk lawan bicara yang lebih tua, sebaya, lebih muda, bahkan juga untuk diucapkan kepada binatang” tuturnya.

 

Berangkat dari sana, Dian menuturkan lembaga pendidikan harus ikut andil untuk memaksimalkan pengunaan bahasa daerah, salah satunya lewat muatan lokal. Lewat Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 69 tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pelajaran Bahasa Sunda tingkat SMA serta Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2014 tentang Pelestarian Aksara dan Bahasa Daerah, Sekolah dianjurkan untuk mengenalkan peserta didik tentang bahasa daerahnya masing-masing.

”Bagi Sekolah, tolong tetap pertahankan dan laksanakan muatan lokal bahasa sunda. Jangan menggangap bahasa sunda itu tak lebih penting dari mata pelajaran yang lain.

Pesan utama, di Jawa Barat mempunya muatan lokal. Itu tolong tetap dipertahankan, dilaksanakan. Menggangap mata pelajaran lain lebih penting. Saya harap muatan lokal bahasa sunda bukan menjadi sebuah pilihan, tapi harus selalu jadi kewajiban untuk diajarkan,” pungkasnya.

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/