Konsep Pendidikan Karakter Menurut Adat dan Budaya di Indonesia

Konsep Pendidikan Karakter Menurut Adat dan Budaya di Indonesia

Konsep pendidikan karakter selain dipahami secara universal, ternyata juga telah ada konsep pendidikan karakter yang asli Indonesia.Konsep pendidikan tersebut dapat digali dari berbagai adat istiadat dan budaya di Indonesi, ajaran berbagai agama yang ada di Indonesia serta praktik kepemimpinan yang telah lama diterapkan di Indonesi.

Mengingat masyarakat Indonesia yang bersifat multi-pluralis tentu sedikit kesulitan jika seluruh adat dan budaya di Indonesia dibahas disini. Sebagai titik tolak pembahasan, maka dalam hal ini penulis akan membahas empat bahasa (budaya), diantaranya Batak, Jawa, Madura dan Bugis.

  1. Adat Batak Terkait Pendidikan Karakter

Prinsip etika sosial Batak berlandaskan pada Dalihan na Tolu, artinya tungku berkaki tiga. Masayakat Batak diumpamakan sebuah kuali dan Dalihan na Tolu adalah tungkunya. Di sini tergambar perlunya keharmonisan dari ketiga kaki tungku tersebut yakni: hula-hula (para keturunan laki-laki dari satu leluhur), boru (anak perempuan), dan dongan sabutuha (semua anggota laki-laki semarga). Dengan adanya tungku itu maka kuali masayarakat Batak menjadi seimbang, harmonis, dan solidaritas. Akar dari system nilai Dalihan na Tolu adalah kerendahan hati (humble). Orang Batak harus hormat kepada hula-hulanya tanpa syarat, tidak peduli hula-hulanya itu miskin, tidak berpendidikan dan sebagainya.

Dengan Dalihan na Tolu, muncullah demokrasi kekeluargaan dalam masyarakat Batak. Demokrasi kekeluargaan ini dibina dengan cara musyawarah mufakat dengan esensi hasil sebagai berikut:

  1. a)Pembicaraan perseorangan tidak diterima, pendapat umumlah yang menentukan.
  2. b)Jangan disimpan di dalam hati,baiknya dikeluarkan saja.
  3. c)Mayoritas bergembira, jika sudah tidak ada minoritas yang mengeluh.
  4. d)Putusan yang diharapkan, yaitu putusan yang dapat diterima semua orang.
  5. e)Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, sangat bergantung kepada kemasyarakatan. [12]

Pada esensi demokrasi di atas tergambar sifat spontanitas, terbuka, langsung, tenggang rasa dan consensus (dos ni roha sibaen na saut, musyawarah untuk mufakat). Hal lain yang dominan terkait karakter suku Batak adalah falsafah horja. Horja dimaknai oleh masyarakat Batak lebih dari sekedar kerja, tetapi menjurus pada aktivitas yang melibatkan tanggung jawab secara lahir dan batin. Itulah sebabnya dalam pekerjaan umumnya masyarakat Batak siap bekerja keras dan kerja tuntas.

  1. Adat Jawa Terkait Pendidikan Karakter

Banyak sekali nilai karakter Jawa yang sepatutnya dianut dan dikembangkan oleh masyarakat Jawa. Menurut Ki Tyasno Sudarto , Ketua Umum  Majelis Hukum Taman Siswa (2007) seperti yang dikutip oleh Prof Dr.Muchlas Samani, bahwa dasar filosofis karakter adalah Tri Rahayu (tiga kesejahteraan) yang merupakan nilai-nilai luhur (supreme values) dan merupakan pedoman hidup, diantaranya:

  • Mamayu hayuning salira (bagaimana hidup untukmeningkatkan kualitas diri pribadi)
  • Mamayu hayuning bangsa ( bagaimana berjuang untuk Negara dan bangsa)
  • Mamayu hayuning bawana (bagaimana membangun kesejahteraan dunia)

Sementara itu ajaran dari Ki Ageng Soerjomentaram mengatakan bahwa dalam menjalani hidup ini sebaiknya manusia tidak melakukan tigal hal, yaitu: ngangsa-angsa (ambisius), ngaya-aya (terbutu-buru, tidak teliti), dan golek benere dhewe (mau menang sendiri).

POS-POS TERBARU