Kendala

 Kendala

Untuk mencapai tujuan pembangunan kehutanan PJP II dan Repelita VI terdapat berbagai kendala yang masih harus dihadapi dalam pengelolaan kehutanan di masa depan baik dalam tata ruang kawasan hutan negara, infrastruktur, kelembagaan, kualitas sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun persepsi masyarakat dan aparatur negara.

Hutan negara yang mencapai luas 140,4 juta hektare dengan berbagai bentuk penggunaannya masih sangat sedikit diketahui batas-batasnya di lapangan. Penataan ruang daerah yang belum mantap menyebabkan terjadinya tumpang tindih dalam peman¬faatan kawasan hutan serta menyebabkan kesulitan dalam meman¬tapkan sistem pengelolaan hutan secara lestari. Masih kurang mantapnya tata ruang daerah tersebut menjadi kendala dalam pembangunan kehutanan yang berkelanjutan, baik dari segi kepas¬tian usaha bagi dunia usaha kehutanan dan masyarakat maupun dari segi pengawasan dan pengendalian pengusahaan hutan oleh pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya.

Kawasan hutan pada umumnya terdapat di daerah yang ter-pencil dengan keadaan topografi yang berat sehingga upaya pe¬manfaatannya belum efisien. Pemanfaatan hutan seringkali dilaku¬kan hanya di sekitar daerah yang mudah dicapai yang sering menunjukkan gejala eksploitasi yang berlebihan dan merusak kele¬starian hutan. Oleh karena itu, kondisi lapangan yang berat ser¬ingkali menjadi kendala yang utama dalam pembangunan infras¬truktur untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan hutan yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Hutan alam Indonesia sangat luas dan beraneka ragam serta tersebar di seluruh kepulauan. Untuk meningkatkan pengelolaan¬nya diperlukan sumber daya manusia yang berkeahlian, terampil, berdedikasi tinggi, tahan keterpencilan, dan berjiwa pelopor. Kurangnya sumber daya manusia yang profesional dan berdedikasi tinggi menjadi kendala yang berat dalam pembangunan kehutanan di masa depan, terutama di kalangan dunia usaha kehutanan dan di daerah-daerah. Upaya pelestarian hutan memerlukan ilmu dan teknologi yang tepat yang sesuai dengan kondisi hutan yang beraneka ragam.

Pelestarian hutan juga memerlukan keserasian yang dinamis antara pengelolaan hutan, perkembangan masyarakat dan penduduk, perkembangan industri kehutanan, perdagangan dan pemanfaatan basil hutan. Sementara itu, penelitian yang telah dilaksanakan pada waktu ini masih sangat terbatas karena berbagai kendala seperti kurangnya tenaga peneliti yang ahli. Kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang masih kurang ini akan menjadi kendala yang penting dalam pembangunan kehutanan di masa depan.

sumber :

https://dogetek.co/seva-mobil-bekas/