JENIS-JENIS QIYAS ( ﻡﺎﺴﻗﺃ ﺱﺎﻴﻘﻟﺍ )

JENIS-JENIS QIYAS ( ﻡﺎﺴﻗﺃ ﺱﺎﻴﻘﻟﺍ )

JENIS-JENIS QIYAS ( ﻡﺎﺴﻗﺃ ﺱﺎﻴﻘﻟﺍ )

 

JENIS-JENIS QIYAS ( ﻡﺎﺴﻗﺃ ﺱﺎﻴﻘﻟﺍ )
JENIS-JENIS QIYAS ( ﻡﺎﺴﻗﺃ ﺱﺎﻴﻘﻟﺍ )

Qiyas terbagi menjadi Qiyas Jali ( ﻲﻠﺟ) dan Qiyas Khofi ( ﻲﻔﺧ).

1. Qiyas jali (jelas)

adalah : yang tetap ‘illahnya dengan nash atau ijma’ atau
dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya.

Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan nash : Mengqiyaskan larangan
istijmar (bersuci dengan batu atau yang semisalnya, pent) dengan darah najis
yang beku dengan larangan istijmar dengan kotoran hewan, maka ‘illah dari
hukum ashl-nya tetap dengan nash ketika Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu
datang kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dengan dua batu dan sebuah
kotoran hewan agar beliau beristinja’ dengannya, kemudian beliau mengambil
dua batu tersebut dan melempar kotoran hewan tersebut dan mengatakan :
“Ini kotor ( ﺍﺬﻫ ﺲﻛﺭ )”, dan (ﺲﻛﺮﻟﺍ) adalah najis (ﺲﺠﻨﻟﺍ).

Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan ijma’ : Nabi shollallohu alaihi wa
sallam melarang seorang qodhi (hakim) memutuskan perkara dalam keadaan
marah.

Maka qiyas dilarangnya qodhi yang menahan kencing dari memutuskan
perkara, terhadap larangan qodhi yang sedang marah dari memutuskan
perkara merupakan qiyas jali karena ‘illah ashl-nya tetap dengan ijma’ yaitu
adanya gangguan pikiran dan sibuknya hati.

Contoh yang dipastikan ‘illah-nya dengan menafikan perbedaan antara
ashl dan cabangnya : Qiyas diharamkannya menghabiskan harta anak yatim
dengan membeli pakaian, terhadap pengharoman menghabiskannya dengan Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

membeli makanan karena kepastian tidak adanya perbedaan antara
keduanya.

2. Qiyas khofi (samar)

adalah : yang ‘illah-nya tetap dengan istimbath
(penggalian hukum) dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara
ashl dengan cabang.

Contohnya : mengqiyaskan tumbuh-tumbuhan dengan gandum dalam
pengharaman riba dengan ‘illah sama-sama ditakar, maka penetapan ‘illah
dengan takaran tidak tetap dengan nash, tidak pula dengan ijma’ dan tidak
dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Bahkan
memungkinkan untuk dibedakan antara keduanya, yaitu bahwa gandum
dimakan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan.

QIYAS ASY-SYABH / KEMIRIPAN ( ﺱﺎﻴﻗ ﻪﺒﺸﻟﺍ )

Di antara Qiyas ada yang dinamakan dengan “Qiyas asy-Syabh” yaitu suatu
cabang diragukan antara dua ashl yang berbeda hukumnya, dan pada cabang
tersebut terdapat kemiripan dengan masing-masing dari kedua ashl tersebut,
maka cabang tersebut digabungkan dengan salah satu dari kedua ashl
tersebut yang lebih banyak kemiripannya.

Contohnya : apakah seorang budak bisa memiliki dalam keadaan ia
dimiliki dengan diqiyaskan kepada orang merdeka? atau dia tidak bisa
memiliki dengan diqiyaskan kepada binatang ternak?

Jika kita memperhatikan dua ashl ini, orang yang merdeka dan binatang
ternak, kita dapati bahwa budak diragukan antara keduanya. Dari sisi bahwa Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

ia adalah seorang manusia yang berakal, ia diberi ganjaran, diberi siksaan,
menikah dan menceraikan, yang ini mirip dengan orang merdeka. Dari sisi
bahwa ia diperjual belikan, digadaikan, diwaqafkan, dihadiahkan, dijadikan
sebagai warisan, tidak ditinggalkan begitu saja, dijaminkan dengan harga dan
bisa digunakan, yang hal ini mirip dengan binatang ternak. Dan kami telah
mendapatkan bahwa budak dari sisi penggunaan harta lebih mirip dengan
binatang ternak maka hukumnya digabungkan dengannya.

Jenis qiyas ini adalah lemah jika tidak ada antara cabang dan ashl-nya
‘illah yang sesuai, hanya saja ia memiliki kemiripan dengan ashl-nya dalam
kebanyakan hukumnya dengan keadaan diselisihi oleh ashl yang lain.

QIYAS AL-‘AKS/ KEBALIKAN ( ﺱﺎﻴﻗ ﺲﻜﻌﻟﺍ )

Di antara qiyas ada yang dinamakan dengan “Qiyas al-‘Aks”, yaitu :
penetapan lawan hukum ashl untuk cabangnya, karena adanya lawan dari
‘illah hukum ashl pada cabang tersebut.

Dan mereka (para ulama ahli ushul, pent) memberi contoh dengan sabda
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam :

” ﺔﻗﺪﺻ ﻢﻛﺪﺣﺃ ﻊﻀﺑ ﰲﻭ .” ﺍﻮﻟﺎﻗ : ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ ! ﺎﻬﻴﻓ ﻪﻟ ﻥﻮﻜﻳﻭ ﻪﺗﻮﻬﺷ ﺎﻧﺪﺣﺃ ﰐﺄﻳﺃ
ﻝﺎﻗ ؟ﺮﺟﺃ ” : ﰲ ﺎﻬﻌـﺿﻭ ﺍﺫﺇ ﻚﻟﺬـﻜﻓ ؟ﺭﺯﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻥﺎﻛﺃ ﻡﺍﺮﺣ ﰲ ﺎﻬﻌﺿﻭ ﻮﻟ ﻢﺘﻳﺃﺭﺃ
ﺮﺟﺃ ﻪﻟ ﻥﺎﻛ ﻝﻼﳊﺍ ”

“Dan pada persetubuhan salah seorang di antara kalian bernilai
shodaqoh.” Para sahabat berkata : “Wahai Rosululloh, apakah salah seorang
dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapat pahala karenanya?” Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

115
Rosululloh berkata : “Bagaimana menurut kalian jika ia menyalurkannya
kepada yang harom, bukankah ia akan mendapat dosa? Demikian pula jika ia
menyalurkannya kepada yang halal, maka ia akan mendapat pahala.”

Nabi shollallohu alaihi wa sallam menetapkan untuk cabang yaitu
persetubuhan yang halal sebagai pembatal hukum ashl yaitu persetubuhan
yang haram, karena adanya pembatal ‘illah hukum ashl pada cabang tersebut,
ditetapkan pahala untuk cabangnya karena ia adalah persetubuhan yang
halal, sebagaimana pada ashl-nya ditetapkan dosa karena ia adalah
persetubuhan yang haram.

Baca Juga: