Hubungan Antara Indeks Bentuk Telur Dan Bobot Tetas Telur Ayam Kampung

 Hubungan Antara Indeks Bentuk Telur Dan Bobot Tetas Telur Ayam Kampung

Sarwono (1994) disitasi Slombe (2012) menyatakan bahwa ukuran telur ada hubunganya dengan daya tetas.Telur yang terlalu besar atau kecil tidak baik untuk ditetaskan karena daya tetasnya rendah (Rahayu, 2005) disitasi Salombe (2012) Telur yang terlalu kecil mempunyai luas permukaan telur per unit yang lebih besar dibandingkan dengan telur yang besar.

Yoyo (2009) disitasi Salombe (2012) yang menyatakan bahwa bobot telur yang tidak menetas memiliki bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan bobot telur yang menetas, karena telur yang kecil mempunyai luas permukaan telur per unit yang lebih besar dibandingkan dengan telur yang lebih besar, akibatnya penguapan air dari dalam telur akan lebih cepat sehingga telur akan cepat kering.

2.3. Hubungan Antara Bobot Telur dan Bobot Tetas Telur Puyuh

Gillespie (1992) disitasi Mahi et al (2012)  menyatakan bahwa ukuran besar telur berpengaruh pada ukuran besar anak burung puyuh yang baru menetas,  dan  pengaruhnya  tidak  terlihat  pada  anak  yang  berumur  35  hari. Elvira, et al. (1994) disitasi Mahi et al (2012) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi bobot telur antara lain adalah : breed, umur, nutrisi pakan, molting, suhu dan lingkungan, program pencahayaan, serta umur dewasa kelamin. Bobot telur akan mempengaruhi bobot tetas. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah kandungan putih telur dan kuning telurnya. Semakin besar bobot telur, maka kandungan putih telur dan kuning telur juga semakin besar,dimana putih telur dan kuning telur tersebut merupakan sumber makanan bagi embrio dalam telur. Satu butir  telur rata-rata mengandung 60% putih telur, 30% kuning telur, dan 10% kerabang. Telur terdiri dari empat komponen dasar yaitu putih  telur, kuning  telur, kerabang  telur dan  selaput  kerabang  telur.

2.4.  Hubungan antara bentuk indeks telur dan bobot tetas telur puyuh

Telur dengan bentuk lancip dapat menerima panas suhu ruang inkubasi dengan baik, sehingga proses metabolisme embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga berbobot tetas lebih rendah bila dibandingkan dengan telur dengan bentuk bulat. North (1994) disitasi Mahiet al(2012) menyatakan bahwa penyerapan suhu pada telur dengan bentuk lancip lebih baik bila dibandingkan dengan telur berbentuk tumpul maupun bulat, hal ini menyebabkan proses metabolisme embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga bobot tetasnya lebih tinggi.

North (1994) disitasi Mahi et al (2012) menyatakan bahwa penyerapan suhu telur dengan bentuk lancip lebih baik pada waktu penetasan bila dibandingkan dengan telur berbentuk tumpul maupun bulat. Burke (1992) disitasi Mahi et al (2012) menyatakan bahwa jika suhu normal selama proses penetasan, maka proses perkembangan embrio dapat berjalan normal sebagai akibat organ vitalnya dapat berbentuk dan berkembang secara optimal dan normal.

sumber :

https://sel.co.id/gb-whatsapp-apk/