Fertilitas Telur Burung Puyuh dan Ayam Kampung

Fertilitas Telur Burung Puyuh dan Ayam Kampung

            Fertilisasi dan daya tetas merupakan dua sifat yang mempunyai nilai ekonomis penting pada program pembibitan puyuh disamping karakter produksi telur. Pramono (2004) menyatakan bahwa rata-rata fertilitas dan daya tetas telur puyuh di peternakan Kota Bengkulu masing-masing 61% dan 67,2% di samping itu ditemukan juga seitar 20% puyuh yang berkaki pengkor.

            Persentase fertilitas telur ayam tolaki pada mesin tetas sumber panas listrik (PL) dan mesin tetas kombinasi listrik dan lampu minyak (PLM) sebagaimana terlihat menunjukkan bahwa secara umum rata-rata fertilitas telur ayam tolaki adalah 52,72%. Fertilitas telur ayam tolaki yang dicapai pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan tertilitas ayam kampung yang dilaporkan Djafar (2001) yakni sebesar 65,18%, fertilitas ayam kedu pebibit di Kabupaten Temanggung yaitu 74,24% (Suryani dkk., 2012), fertilitas ayam petelur yang diinseminasi dengan semen pejantan ayam kampung dengan mengencerkan NaCl fisiologis 0,9 persen ditambah kuning telur ¼ bagian diperoleh hasil sebesar 70,83% (Sujionohadi dkk., 2007).

2.2. Daya Tetas

Daya tetas dihitung dengan membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah seluruh telur yang fertil. Semakin tinggi jumlah telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan akan dihasilkan persentase daya tetas yang tinggi pula. Menurut North (1980), fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan daya tetas yang tinggi.salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas telur ialah rasio seks pejantan dan induk betina.

Daya tetas dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain factor genetic, fertilitas, lama dan suhu penyimpanan telur, suhu dan kelembapan mesin tetas, kebersihan telur, umur induk, nutrisi, penyakit serta keseragaman bentuk dan ukuran telur (North dan bell, 1990; Ensminger, 1992).

sumber :

https://www.ram.co.id/gb-whatsapp-apk/