Etika Profesi Sebagai Landasan Moral Bekerjanya Dokter

Etika Profesi Sebagai Landasan Moral Bekerjanya Dokter

Etika Profesi Sebagai Landasan Moral Bekerjanya Dokter

Etika Profesi Sebagai Landasan Moral Bekerjanya Dokter

Meningkatnya sorotan masyarakat terhadap profesi kesehatan (baca dokter), disebabkan karena berbagai perubahan, antara lain adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan di bidang kedokteran dan teknologi bidang kedokteran. Disamping itu juga adanya perubahan karakteristik masyarakat dokter sebagai pemberi jasa kesehatan dan perubahan pola hidup masyarakat sebagai pengguna jasa kesehatan yang mulai sadar akan hak-haknya. Bila perubahan tersebut tidak disertai komunikasi yang balk antara dokter sebagai pemberi jasa kesehatan dengan pasien sebagai penerima jasa kesehatan hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman yang berakibat timbulnya konflik.

Sorotan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan profesi dokter merupakan suatu kritik yang baik terhadap profesi dokter. Dengan adanya kritik dan sorotan tersebut diharapkan para dokter dapat meningkatkan profesi dan pelayanannya kepada masyarakat pada umumnya dan pasien pada khususnya.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan (medik) kepada individu atau perorangan, keluarga atau komunitas diperlukan tatanan dan landasan filosofi yang mengarahkan pada tanggungjawab moral yang esensial dalam pelaksanaannya dimana inti dari falsafah ini adalah penghormatan terhadap hak dan martabat manusia sebagai insan hamba Tuhan. Fokus etik kesehatan ini pada dasarnya ditujukan pada sikap dan perilaku manusia yang mempunyai ciri dan nilai tersendiri. Nilai atau value merupakan hak setiap individu untuk mengatur perilakunya tersendiri dalam rangka menentukan langkah-langkah yang patut dilaksanakan sebagai cetusan dari hati nurani yang dalam. Nilai dipengaruhi lingkungan dan pendidikan. dan hal ini akan membentuk atau menjadikan seseorang atas kepribadiannya dan membedakan dengan pribadi orang lain. Permasalahan etik dan hukum di bidang kesehatan, dewasa ini terutama bersumber dari kurangnya penghayatan dalam memahami nilai-nilai dasar manusia itu sendiri.

Dewasa ini hampir tidak ada bidang kehidupan yang tidak terjamah oleh hukum, baik sebagai norma maupun sebagai sikap manusia yang mempunyai hasrat untuk hidup teratur, tenteram dan penuh kedamaian. Hukum mengakui bahwa hubungan kehidupan antar manusia itu menimbulkan rasa puas dan menyenangkan. Sebagai contoh adalah rumah sakit, dimana tempat ini merupakan suatu sarana sebagai suatu sistem sarana kesehatan yang memerlukan kerjasama yang terkoordinasi dan terintegrasi antar unit dari para tenaga kesehatan berdasarkan pada akhlak, moral, kesopanan atau ethos dan kesadaran tinggi akan tugas dan kewajibannya masing-masing.

Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang merupakan tuntunan perilaku para dokter dalam menjalankan profesi mediknya, maupun Lafal Sumpah Dokter yang secara filosofis berisikan pesan-pesan moral dan akhlak yang wajib untuk diikuti oleh para dokter dalam hubungan dokter dengan pasien. Dokter yang lalai mengikuti tuntunan tersebut dimana atas kelalaiannya itu berakibat merugikan orang lain atau pasien, dokter dapat dituduh telah melakukan malpraktik. Setiap orang yang mengetahui kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter dalam menjalankan praktik kedokterannya dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Dalam pengaduan tersebut harus memuat:

  1. identitas pengadu;
  2. nama dan alamat tempat praktik dokter waktu tindakan dilakukan; dan
  3. dan/ atau alasan pengaduan (perhatikan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004).

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran etik, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia akan meneruskan pengaduan pada organisasi profesi, dalam hal ini IDI. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dapat berbentuk dokter dinyatakan tidak bersalah atau pemberian sanksi disiplin.

Sanksi disiplin ini dapat berupa:

  1. pemberian peringatan tertulis;
  2. rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat ijin praktik
  3. dan/atau kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran (Pasal 69 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004).
  1. Hubungan Antara Dokter dan Pasien

Dalam kepustakaan ditemukan ciri khusus pekerjaan/ dokter tersebut, yaitu sebagaimana dikemukakan oleh Freidsod dan Wilson (Komalawati, V., 993 : 38) sebagai berikut Menurut Freidson, pekerjaan dokter dilakukan dalam kamar konsultasi yang tertutup atau dalam kamar tidur, bahkan pada umumnya dokter memberikan jasanya kepada individu dan bukan pada kumpulan orang atau lapisan sosial.

Sedangkan hubungan yang sangat pribadi antara dokter dengan pasien dilukiskan oleh Wilson sebagai hubungan antara pendeta dengan jamaah yang mengutarakan perasaannya. Oleh karena itu ada anggapan bahwa dalam menangani penyelamatan atau penyembuhan penyakit pasien diperlukan keakrabannya. Pengakuan pribadi yang sangat penting bagi eksplorasi atas jiwa atau diri sendiri, sangat membutuhkan suatu keadaan yang terlindung, dan kamar konsultasi dokter mungkin merupakan analog modern yang tepat untuk tempat suci yang aman pada gereja pada abad-abad pertengahan. Dengan demikian pasien senantiasa percaya kepada kemampuan dokter, kepada siapa pasien menyerahkan nasibnya. Pasien merasa beruntung dan tenteram apabila dokter berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyembuhkan penyakitnya. Adanya perkembangan kehidupan manusia dan pengaruh meningkatnya budaya manusia serta hubungan antar bangsa atau negara yang semakin mudah, lama-lama keadaan demikian mengalami perubahan. Disamping itu dengan makin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap tanggung jawab atas kesehatan maka kepercayaan yang semula tertuju pada kemampuan dokter secara pribadi mulai bergeser pada ilmunya. Timbul kesadaran masyarakat untuk menuntut suatu hubungan yang seimbang dan tidak lagi sepenuhnya pasrah kepada dokter.

Berdasarkan ciri yang ditemukan dalam profesi, pekerjaan dokter mempunyai ciri khusus antara lain merupakan hubungan yang sangat pribadi karena didasarkan pada kepercayaan. Kepercayaan antara dokter dengan pasien tidak hanya didasarkan pada hak-hak dan kewajiban yang timbul dari masing-masing pihak yang diatur oleh hukum, tetapi kepercayaan tersebut timbul atas dasar nilai-nilai moral yang dimiliki setiap dokter sebagaimana tertuang dalam KODEKI, khususnya pada Pasal 10, 11 dan 12 tentang Kewajiban Dokter Terhadap Penderita (Hendrojono Soewono).

Hubungan antara dokter dengan pasien juga dikemukakan oleh Dassen telah mengalami perkembangan sebagaimana dikutip oleh Soekanto (1987 :2) sebagai berikut:

  1. Pasien pergi ke dokter karena merasa ada sesuatu yang membahayakan kesehatannya. Segi psycho-biologisnya memberikan suatu peringatan bahwa dirinya menderita sakit. Dalam hal ini dokter dianggap sebagai pribadi yang dapat menolongnya karena kemampuannya secara ilmiah. Dokter mempunyai kedudukan lebih tinggi dan peranan yang lebih penting daripada pasien (dari sudut pandangan pasien).
  2. Pasien pergi ke dokter, karena mengetahui dirinya sakit dan dokter akan mampu menyembuhkannya. Dalam hat ini, pasien menganggap kedudukannya sama dengan dokter, tetapi peranan dokter lebih penting darinya.
  3. Pasien pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang intensif dan mengobati penyakit yang ditemukan. Hal ini mungkin diperintahkan oleh pihak ketiga. Dalam hal ini terjadi pemeriksaan yang bersifat preventif.

Dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 khususnya pada alinea kelima dikaitkan dengan hubungan antara dokter dengan pasien dapat dilihat sebagai berikut berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap dokter dan dokter gigi, maraknya tuntutan hukum yang diajukan masyarakat dewasa ini seringkali diidentikkan dengan kegagalan upaya penyembuhan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi. Bila hal ini dikaitkan dengan pendapat Elledson dan Wilson kondisi hubungan antara dokter dengan pasien yang dilukiskan sebagai hubungan sebagai hubungan antara pendeta dengan jamaahnya sudah tidak cocok lagi. Sedangkan bila dikaitkan dengan pendapat Dassen, bahwa dalam hubungan antara dokter dengan pasien, pasien mengakui bahwa kedudukan dokter lebih tinggi karena memiliki kemampuan ilmiahnya sehingga lebih berperanan dari dirinya dalam upaya penyembuhan dirinya (pasien).

sumber :

Mau Mobil Bekas Kualitas Berkelas ? Pilih Seva.id Ya