Deteksi Tsunami tanpa Sistem Pelampung

Deteksi Tsunami tanpa Sistem Pelampung

Deteksi Tsunami tanpa Sistem Pelampung

Deteksi Tsunami tanpa Sistem Pelampung
Deteksi Tsunami tanpa Sistem Pelampung

PASCATSUNAMI Aceh 13 tahun lalu, pemerintah berupaya membuat kebijakan penanggulangan bencana melalui pembuatan sistem pencegahan dini tsunami.

Untuk pengadaan alat-alat, pemerintah menjalin kerja sama dengan Jerman dan Amerika.

Hingga akhirnya pemerintah bisa mandiri mengelola sistem tersebut.

Sistem peringatan dini tsunami itu menggunakan teknologi buoy

(pelampung) di permukaan air hangat yang tersebar di hampir seluruh wilayah perairan negara ini.

Pelampung itu terhubung dengan sensor dasar laut (seafloor sensors) serta penangkapan data oleh satelit.

Biaya komponen pelampung itu mencapai ratusan ribu dolar AS. Biaya operasionalnya pun dikategorikan mahal.

Ironisnya, sistem mahal ini tidak bertahan lama.

Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengonfirmasi semua buoy kini sudah tidak dapat beroperasi karena rusak.

Penyebabnya kurangnya perawatan, baik dari sisi finansial

maupun operasional.

Kerusakan juga disebabkan aksi vandalistis beberapa pelaut yang mempreteli komponen inti dalam sistem tersebut.

Hal itu merupakan faktor penyebab tidak berjalannya sistem pendeteksian tsunami saat gempa Padang, Maret tahun yang lalu.

Gempa tersebut sebenarnya tidak menyebabkan tsunami

atau hanya bisa disebut tsunami minor karena ketinggian air laut di daratan hanya sekitar 5-10 sentimeter.

Namun, karena 22 pelampung yang ada tidak berfungsi, petugas tidak mencabut tanda bahaya peringatan tsunami hingga 2 jam dan menimbulkan kepanikan luar biasa.

 

sumber :

https://rajasatour.id/pengertian-budaya-politik/