Bobot Tetas

Bobot Tetas

Bobot tetas adalah bobot DOC setelah menatas yang bulu badannya telah kering dan sebelum diberi makan atau minum untuk pertama kalinya. Kaharudin (1989) Menyatakan bahwa, salah satu faktor yang mempengaruhi bobot tetas yaitu bobot telur tetas. Sudaryani dan santoso (1994) menyatakan, bobot telur tetas merupakan faktor utama yang mempengaruhi bobot tetas, selanjutnya dikatakan bobot tetas yang normal adalah dua per tiga dari bobot telur dan apabila bobot tetas kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bias dkatakan belum berhasil.

Hadijah (1987) menyatakan bahwa bobot telur ternyata dapat digunakan sebagai indicator bobot tetas, dimana telur yang lebih berat akan menghasilkan DOC yang lebih berat. Selain itu coleman (1979) berpendapat bahwa telur yang mempunyai berat lebih besar akan menghasilkan bobot tetas yang lebih besar dibandingkan dengan telur yang kecil, tetapi telur telur yang besar akan menetas lebih lambat. Selanjutnya selton dan sleger menyimpulkan bahwa bobot telur dengan bobot tetas mempunyai hubungan korelasi yang positif.

North  (1994) dalam Mahi (2012),  menyatakan  bahwa penyerapan suhu pada telur dengan bentuk lancip lebih baik bila dibandingkan dengan telur berbentuk  tumpul  maupun  bulat,  hal  ini  menyebabkan  proses  metabolisme  embrio didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga bobot tetasnya lebih tinggi.  North  dan  Bell  (1990) menyatakan  bahwa  kelembapan  mesin  tetas yang terlalu tinggi melebihi yang dianjurkan 55-60%  akan  menyebabkan  terganggunya sistem pernafasan, jantung, ginjal, dan dapat menyebabkan  embrio  dehidrasi  pada  proses penetasan.

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Fertilitas, daya tetas dan bobot tetas ayam kampung dan telur burung puyuh ini dilaksanakan di Kandang Unggas Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo Kendari, pada hari Rabu 9 Maret 2016 pukul 15:00 WITA.

sumber :

POS-POS TERBARU