Alihkan Perhatian Melalui Literasi

Alihkan Perhatian Melalui Literasi

Alihkan Perhatian Melalui Literasi

Alihkan Perhatian Melalui Literasi
Alihkan Perhatian Melalui Literasi

Dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan budaya literasi, Kecamatan Ciwidey mengukuhkan tujuh Bunda Literasi Desa se-Kecamatan Ciwidey. Masing-masing dari Desa Panundaan, Lebakmuncang, Rawabogo, Nengkelan, Sukawening, Panyocokan dan Desa Ciwidey.

Bunda Literasi Kecamatan Ciwidey Fitri Priminingrum mengatakan, pengukuhan tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan pihaknya, dengan pertimbangan dibutuhkannya seorang tokoh masyarakat. Tokoh tersebut tentunya harus memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi, terhadap peningkatan minat baca masyarakat.

”Mendorong masyarakat untuk meningkatkan budaya gemar membaca, memerlukan usaha nyata dan ketauladanan. Seorang tokoh masyarakat dari lingkungan terdekat, terutama yang memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap kualitas SDM, dirasa sangat diperlukan. Sifat ketauladanan bisa didapatkan dari kehadiran sosok seorang ibu,” Kata Fitri saat ditemui di Ciwidey, Kamis (4/7).

Selain menjadi teladan bagi keluarga menurutnya, sosok ibu akan menjadi peran sentral dalam membangun karakter anak. ”Dewasa ini anak-anak lebih senang bermain gawai (gadget) daripada membaca buku, menulis atau mencari pengetahuan lainnya. Peran seorang ibu tentunya sangat sentral dalam membangun karakter anak,” tuturnya.

Fitri menjelaskan, pengukuhan bunda literasi desa di wilayah Kecamatan Ciwidey,

merupakan harapan Bunda Literasi Kabupaten Bandung Kurnia Agustina M. Naser. Disamping itu juga merupakan salah satu upaya, untuk menekan pemakaian gawai pada anak-anak.

”Sempat diungkapkan oleh Ibu Kurnia, bahwa ia menginginkan terbentuknya bunda literasi di 270 desa dan 10 kelurahan. Mereka harus mampu merangkul komunitas-komunitas TBM (Taman Baca Masyarakat), yang sudah ada di tengah masyarakat. Sehingga keberadaannya bisa menekan maraknya pemakaian gawai pada anak, serta memaksimalkan keberadaan perpustakaan desa,” akunya.

Selain itu, katanya, bunda literasi desa juga merupakan solusi pembentukan generasi terbaik bangsa, khususnya anak-anak Kabupaten Bandung yang sehat, cerdas, ceria dan berahlak mulia serta berbudi pekerti yang luhur.

”Mudah-mudahan keberadaan ibu sebagai figur yang memayungi gerakan literasi

ini, juga bisa menekan angka putus sekolah, serta mendukung budaya literasi di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat,” terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Bandung Tri Heru Setiati menyebutkan, untuk membangun masyarakat dibutuhkan manusia cerdas dan memiliki kemampuan tinggi dalam membangun diri dan jiwanya. Hal itu dapat terwujud dengan terbentuknya litera-litera yang kuat.

“Untuk mendukung pembangunan kualitas SDM masyarakat Kabupaten Bandung,

diperlukan peningkatan beberapa aspek. Yaitu meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri. Aspek-aspek tersebut akan bermuara pada peningkatan keberdayaan, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Tri juga menambahkan, bunda literasi sebagai medium yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, dituntut untuk selalu mengkonsolidasi dan merevitalisasi programnya.

 

Sumber :

http://journals.sbmu.ac.ir/en-iranjem/user/viewPublicProfile/47154